Senin, 25 April 2011

Privasi, Ruang Personal dan Teritorialitas


A.PENGERTIAN PRIVASI


Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. tingkatan privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, yaitu adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supaya sukar dicapai oleh orang lain.

Privasi atau yang dikenal sebagai Kerahasiaan pribadi adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka. Privasi kadang dihubungkan dengan anonimitas walaupun anonimitas terutama lebih dihargai oleh orang yang dikenal publik. Privasi dapat dianggap sebagai suatu aspek dari keamanan.

Konsep ‘privacy’ dalam arsitektur bisa diartikan sebagai suatu kebutuhan manusia untuk menikmati sebagian dari kehidupan sehari-harinya tanpa ada gangguan baik langsung maupun tidak langsung oleh subjek lain. Hal ini dinyatakan dalam suatu ruang yang tertutup dari jangkauan pandangan maupun fisik dari pihak luar. Jadi jelas ada batasan-batasan fisik untuk mencapainya.

Berikut ini adalah pengertian privasi menurut beberapa tokoh, diantaranya yaitu :

• Rapoport : Kemampuan untuk mengontrol interaksi memperoleh pilihan dan

mencapai interaksi yang diinginkan.

• Altman: Proses pengontrolan yang selektif terhadap akses kepada diri
sendiri dan akses kepada orang lain.


• Dibyo Hartono: Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang

dikehendaki seseorang pada suatu kondisi tertentu.

Marshall: Pilihan untuk menghindari diri dari keterlibatan dengan orang dan lingkungan

sosial.

B. FAKTOR – FAKTOR PRIVASI


1.Faktor Personal.


Ada perbedaan jenis kelamin dalam privasi, dalam suatu penelitian pria lebih memilih ruangan yang terdapat tiga orang sedangkan wanita tidak memeprmasalahkanisi dalam ruangan itu. Menurut Maeshall prbedaan dalam latar belakang pribadi akan berhubungandengankebutuhanprivasi.


2. Faktor Situasional


Kepuasan akan kebutuhan privasi sangat berhubungan dengan seberapa besar lingkungan mengijinkan orang-orang di dalamnya untuk mandiri.


3.Faktor Budaya


Pada penelitian tiap-tiap budaya tidak ditemukan perbedaan dalam banyaknya privasi yang diinginkan tetapi berbeda dalam cara bagaimana mereka mendapatkan privasi. Misalnya rumah orang jawa tidak terdapat pagar dan menghadap ke jalan, tinggal dirumah kecil dengan dindidng dari bamboo terdiri dari keluarga tunggal anak ayah dan ibu.

C. RUANG PERSONAL

Ruang personal adalah salah satu mekanisme perilaku untuk mencapai tingkat privasi tertentu. Ruang personal adalah batas maya yang mengelilingi individu sehingga tidak kelihatan oleh orang lain

Beberapa unsur yang mempengaruhi jarak Ruang Personal seseorang, yaitu:

1. Jenis Kelamin

Umumnya laki-laki memiliki ruang yang lebih besar, walaupun demikian faktor jenis kelamin bukanlah faktor yang berdiri sendiri.

2. Umur

Makin bertambah usia seseorang, makin besar ruang personalnya, ini ada kaitannya dengan kemandirian. Pada saat bayi, hampir tidak ada kemampuan untuk menetapkan jarak karena tingkat ketergantungan yang makin tinggi. Pada usia 18 bulan, bayi sudah mulai bisa memutuskan ruang personalnya tergantung pada orang dan situasi. Ketika berumur 12 tahun, seorang anak sudah menerapkan Ruang Personal seperti yang dilakukan orang dewasa.

3. Kepribadian

Orang-orang yang berkepribadian terbuka, ramah atau cepat akrab biasanya memiliki Ruang Personal yang lebih kecil. Demikian halnya dengan orang-orang yang lebih mandiri lebih memilih ruang personal yang lebih kecil. Sebaliknya si pencemas akan lebih mengambil jarak dengan orang lain, demikian halnya dengan orang yang bersifat kompetitif dan terburu-buru.

4. Gangguan Psikologi atau Kekerasan

Orang yang mempunyai masalah kejiwaan punya aturan sendiri tentang RP ini. Sebuah penelitian pada pengidap skizoprenia memperlihatkan bahwa kadang-kadang mereka membuat jarak yang besar dengan orang lain, tetapi di saat lain justru menjadi sangat dekat

5. Kondisi Kecacatan

Beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan antara kondisi kecatatan dengan Ruang Personal yang diterapkan. Beberapa anak autis memilih jarak lebih dekat ke orang tuanya, sedangkan anak-anak dengan tipe autis tidak aktif, anak hiperaktif dan terbelakang mental memilih untuk menjaga jarak dengan orang dewasa.

6. Ketertarikan

Ketertarikan, keakraban dan persahabatan membawa pada kondisi perasaan positif dan negatif antara satu orang dengan orang lain. Namun yang paling umum adalah kita biasanya akan mendekati sesuatu jika tertarik. Dua sahabat akan berdiri pada jarak yang berdekatan dibanding dua orang yang saling asing. Sepasang suami istri akan duduk saling berdekatan dibanding sepasang laki-laki dan perempuan yang kebetulan menduduki bangku yang sama di sebuah taman.

7. Rasa Aman/Ketakutan

Kita tidak keberatan berdekatan dengan seseorang jika merasa aman dan sebaliknya. Kadang ketakutan tersebut berasal dari stigma yang salah pada pihak-pihak tertentu,misalnya kita sering kali menjauh ketika berpapasan dengan orang cacat, atau orang yang terbelakang mental atau bahkan orang gemuk. Mungkin rasa tidak nyaman tersebut muncul karena faktor ketidakbiasaan dan adanya sesuatu yang berbeda.

8. Persaingan/Kerjasama

Pada situasi berkompetisi, orang cenderung mengambil posisi saling berhadapan, sedangkan pada kondisi bekerjasama kita cenderung mengambil posisi saling bersisian. Tapi bisa juga sebaliknya, sepasang kekasih akan duduk berhadapan di ketika makan di restoran yang romantis,sedangkan dua orang pria yang duduk berdampingan di meja bar justru dalam kondisi saling bersaing mendapatkan perhatian seorang wanita yang baru masuk.

9. Kekuasaan dan Status

Makin besar perbedaan status makin besar pula jarak antar personalnya.

10. Pengaruh Lingkungan Fisik

Ruang personal juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik. Di ruang dengan cahaya redup orang akan nyaman jika posisinya lebih berdekatan, demikian halnya bila ruangannya sempit atau kecil. Orang juga cenderung memilih duduk di bagian sudut daripada di tengah ruangan.

11. Dan beberapa variasi lain seperti budaya, religi dan suku/etnis

D. TERITORIALITAS

Pembentukan kawasan teritorial adalah mekanisme perilaku lain untuk mencapai privasi tertentu. kalau mekanisme ruang personal tidak memperlihatkan dengan jelas kawasan yang menjadi pembatas antar dirinya dengan orang lain maka beda teritorial batas batas tersebut nyata dengan tempat yang relatif tetap.

Menurut holahan teritorialitas adalah suatu pola prilaku yang ada hubungannya dengan kepemilikan atau hak seseorang atau sekelompok orang atas sebuah lokasi geografis tertentu. pola prilaku ini mencangkup personalisasi dan pertahanan terhadap gangguan dari luar. Menurut Altman, teritorialitas itu individu yang tinggal di daerah tersebut dapat mengontrol daerah tempat tinggalnya.

Terdapat penjelasan elemen-elemen dari 2 tokoh, yaitu Lang dan Altman

· Lang

Mengemukakan empat karakter dari teritorialitas, yaitu:

1.) Kepemilikan atau hak dari suatu tempat.

2.) Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu.

3.) Hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar.

4.) Pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan-kebutuhan estetika.

  • Altman

Membagi teritorialitas menjadi tiga, yaitu:

(1) Teritorial Primer

Jenis teritori yang dipergunakan secara khusus bagi pemiliknya. Contoh: ruang kerja, ruang tidur, pekarangan, wilayah negara, dsb.

(2) Teritorial Sekunder

Jenis teritori yang lebih longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan. Contoh: sirkulasi lalu-lintas di dalam kantor, toilet, zona servis, dsb.

(3) Teritorial Umum

Jenis teritori yang dapat digunakan oleh setiap orang dengan mengikuti aturan-aturan yang lazim di dalam masyarakat di mana teritorial umum itu berada. Contoh: taman kota, tempat duduk dalam bis kota, gedung bioskop, ruang kuliah, dsb.

E. HUBUNGAN ANTARA PRIVASI, RUANG PERSONAL DAN TERITORIALITAS DALAM LINGKUNGAN.

Privasi, Ruang personal, dan Teritorialitas merupakan kerahasian pribadi, adanya batas maya yang mengelilingi individu sehingga tidak kelihatan oleh orang lain dan terdapat suatu kepemilikan pribadi yang bersifat tetap. Jadi hubungannya dengan lingkungan ialah di saat seseorang menjaga dan menyimpan suatu hal atau masalah tertentu dan tidak ingin diketahui oleh orang lain. Jadi orang lain tersebut harus memaklumi dari kerahasian pribadi yang dimilikinya. Karena tidak semua permasalahan pribadi itu harus diketahui oleh orang disekitar kita. Misalkan, seseorang tersebut mengalami masalah dalam lingkungan interaksi sosialnya dikampus seperti “keminderan” , ia tidak ingin orang lain atau teman-temannya mengetahui masalahnya. Masalah ini ia pendam dan dijadikan suatu kerahasiaan pribadi.

Kamis, 31 Maret 2011

Kepadatan dan Kesesakkan Tempat Tinggal




A. Pengertian Kepadatan

Kepadatan atau density ini ternyata mendapat perhatian yang serius dari ahli-ahli psikologi lingkungan. Menurut Sundstrom (dalam Wrightsman & Deaux, 1981) kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan atau sejumlah individu yang berada disuatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstra dan McFarling, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978). Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono,1992).

Kepadatan mencakup banyak dimensi. Kepadatan tidak hanya mencakup dimensi fisik seperti ukuran jumlah penduduk per wilayah atau jumlah orang per rumah (kepadatan hunian dan kepadatan rumah) akan tetapi juga mengandung aspek sosial, ekonomi, dan lain-lain. Oleh karena itu, upaya untuk mengatasi kepadatan perlu memperhatikan aspek lain di luar aspek fisik. Berbagai aspek tersebut terutama yang menguntungkan kehidupan penduduk perlu dipertahankan sehingga kebiasaan dan perilaku yang positif tetap dapat dipertahankan.

Di tinjau dari segi penduduk, terungkap bahwa rumah padat bagi penduduk berarti rumah yang luasnya tidak sebanding dengan jumlah penghuninya, serta tidak ada tempat bermain atau halaman. Kriteria ini sesuai dengan kriteria yang dianut para ahli, akan tetapi ukuran lain seperti jumlah orang yang tidur dalam satu kamar, jumlah ruangan dalam kamar, jumlah WC per orang/rumah, jumlah anak balita per tempat tidur, dan lain-lain ukuran yang berkaitan dengan jumlah fasilitas perumahan dengan jumlah penghuni tidak dirasakan sebagai ukuran kepadatan oleh penduduk. Oleh karenanya, penyuluhan tentang hal ini perlu ditingkatkan tidak hanya oleh Dinas Kesehatan tetapi juga Dinas Perumahan dan pihak-pihak lain yang berkaitan dengan jumlah fasilitas perumahan dan jumlah penghuni tidak dirasakan sebagai ukuran kepadatan (Surjadi et al., 1996).

B. Kepadatan Tempat Tinggal

Kepadatan tempat tinggal, bagaimanapun juga pengaruh dari tempat tinggal yang terbatas bisa bermacam-macam. Salah satu dramatis terdapat dari studi kasus tentang para sukarelawan Korps Perdamaian (MacDonald & Oden dalam Sears dkk., 1992). Dalam Penelitian ini lima pasangan pernikahan bersedia dengan sukarela membagi ruang tanpa sekat sebesar 30 kali 30 kaki selama dua belas minggu program latihan.Para sukarelawan bersedia mengalami hal ini dalam upaya memperoleh pemahaman tentang kesulitan yang mungkin suatu saat nanti akan mereka hadapi di perantauan. Mereka dibandingkan dengan pasangan Korps Perdamaian lain yang tinggal di kamar hotel yang lebih luas.

Meskipun kondisi tempat tinggal mereka sangat padat, pasangan yang tinggal bersama tidak menunjukkan adanya pengaruh yang merugikan dan menganggap pengalaman mereka sebagai suatu tantangan yang positif. Rupanya mereka mengembangkan semangat juang yang tinggi dan suasana kerjasama. Jelas, mereka yang menjadi sukarelawan untuk tinggal bersama memiliki kepribadian yang berbeda dengan mereka yang bukan sukarelawan, dan mereka tahu bahwa situasi tersebut hanya bersifat sementara. Namun, kesimpulan dari contoh ini adalah bahwa tinggal ditempat yang berkepadatan tinggi bisa menjadi pengalaman yang positif dalam situasi tertentu.

Penelitian yang dilakukan terhadpa penghuni penjara juga memberikan bukti tentang pengaruh kepadatan tempat tinggal. Tahanan yang ditempatkan seorang diri di dalam sel ternyata memiliki tekanan darah yang lebih rendah dibandingkan tahanan yang tinggal di dalam sel bertipe asrama. Penelitian yang didasarkan pada data-data arsip juga menunjukkan adanya kaitan antara tingkat kepadatan tempat tinggal yang tinggi dipenjara dan tingkat kematian dan masalah psikiatrik yang lebih tinggi (McCain dkk. Dalam Sears dkk.,1992).

Dalam mengulas berbagai macam penemuan ini, Epstein (dalam Sears dkk.,1992) menyatakan bahwa pengaruh negative dari kepadatan tempat tinggal tidak akan terjadi bila penghuni mempunyai sikap kooperatif dan tingkat kendali tertentu. Tampaknya keluarga tidak banyak mengalami kesesakkan rumah, mungkin karena mereka mampu mengendalikan rumah mereka dan mempunyai interaksi yang dapat meminimalkan timbulnya masalah tempat tinggal berkepadatan tinggi, sebaliknya, tahanan yang kurang mampu mengendalikan lingkungan dan hanya memiliki sedikit motivasi untuk bekerja.

Proporsi luas tanah untuk rumah tempat tinggal penduduk kota yang semakin sempit menyebabkan kepadatan yang tinggi dan ruang untuk keperluan-keperluan individu dan kelompok juga semakin menyempit. Menurut Holahan (1982), kepadatan (density) adalah sejumlah individu pada setiap ruang atau wilayah. Altman (1975) membagi kepadatan menjadi kepadatan dalam dan kepadatan luar. Kepadatan dalam berarti jumlah manusia dalam suatu ruangan, sedangkan kepadatan luar berarti jumlah orang atau pemukiman di suatu wilayah. Dalam hubungannya dengan kondisi psikologis penghunian rumah, kiranya apa yang dikatakan oleh Holahan dan definisi kepadatan dalam dari Altman lebih bisa diterapkan, dimana dalam setiap unit rumah dihuni oleh sejumlah orang.

C. Pengertian Kesesakkan

Selain masalah kepadatan, ciri kedua dari pemukiman kota adalah kesesakan. Pengertian kesesakan (crowding) adalah perasaan subyektif individu terhadap keterbatasan ruang yang ada (Holahan, 1982) atau perasaan subyektif karena terlalu banyak orang lain di sekelilingnya (Gifford, 1987). Kesesakan muncul apabila individu berada dalam posisi terkungkung akibat persepsi subyektif keterbatasan ruang, karena dibatasi oleh system konstruksi bangunan rumah dan terlalu banyaknya stimulus yang tidak diinginkan dapat mengurangi kebebasan masingmasing individu, serta interaksi antar individu semakin sering terjadi, tidak terkendali, dan informasi yang diterima sulit dicerna (Cholidah et al., 1996) Kepadatan memang dapat mengakibatkan kesesakan (crowding), tetapi bukan satu satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan.

Setidaknya ada tiga konsep yang dapat menjelaskan terjadinya kesesakan, yaitu teori information overload, teori behavioral constraint, dan teori ecological model (Stokols dalam Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982; Jain, 1987). Secara teoritis, ketiga konsep tersebut dapat menjelaskan hubungan kepadatan fisik dengan kesesakan. Kenyataan bahwa semakin padat suatu kawasan. Maka semakin banyak informasi yang melintas di hadapan penghuni adalah dinamika yang tida terhindarkan. Bila kemudian informasi tersebut melampaui batas kemampuan penerimaannya, maka mulailah timbul masalah-masalah psikologis.

Semakin banyak penduduk dalam wilayah yang terbatas juga bisa menyebabkan adanya constrain bagi individu dalam berperilaku sehari-hari. Konsep ini berkaitan erat dengan pendekatan ekologis. Prinsipnya, ketika daya dukung wilayah tidak mencukupi lagi maka lingkungan alam dan lingkungan sosial akan saling terkait dalam menimbulkan masalah (Sulistyani et al., 1993). Dalam suasana padat dan sesak, kondisi psikologis yang negatif mudah timbul yang merupakan faktor penunjang yang kuat untuk munculnya stress dan bermacam aktifitas sosial negatif (Wrightsman dan Deaux, 1981).

Bentuk aktifitas sosial negatif yang dapat diakibatkan oleh suasana padat dan sesak, antara lain : 1) munculnya bermacam-macam penyakit baik fisik maupun psikis, seperti stres, tekanan darah meningkat, psikosomatis, dan gangguan jiwa; 2) munculnya patologi sosial, seperti kejahatan dan kenakalan remaja; 3) munculnya tingkah laku sosial yang negatif, seperti agresi, menarik diri, berkurangnya tingkah laku menolong (prososial), dan kecenderungan berprasangka; 4) menurunnya prestasi kerja dan suasana hati yang cenderung murung (Holahan, 1982).

D. Kesesakkan Tempat Tinggal

Kesesakkan sebagai suatu fenomena psikologis yang mempunyai sifat hubungan yang tidak langsung Harold Prohansky (dalam Holahan, 1982). Situasi kesesakkan merupakan perasaan bahwa kehadiran orang lain menyebabkan frustasi dalam usaha mencapai tujuan. Kesesakkan terjadi ketika sejumlah orang dalan suatu setting membatasi kebebasan individu untuk memilih. Oleh karena itu yang paling penting adalah interpretasi kognitif yang mengontrol perilaku terhadap suatu peristiwa kesesakkan.

Menurut Fisher, Bell dan Baum (1984), kesesakkan adalah perasaan kehilangan kontrol, Psychological reactance , dan Learned helpness. Dalam kondisi kesesakkan yang dialami pertama kali adalah perasaan kehilangan kontrol terhadap lingkungan yang merupakan pengalaman yang tidak mengenakkan. Ketika kebebasan memilih dibatasi, orang akan mencoba memecahkan masalah situasi tersebut, muncullah angka kedua yaitu Psychological reactance yang merupakan suatu keadaan motivasional dalam mengatasi perasaan kehilangan kontol dan berusaha mendapatkan kembali kebebasan perilaku yang terancam tersebut (Holahan, 1982). Apabila ini tidak berhasil maka akan muncul langkah ketiga yaitu Learned helpness atau ketidakberdayaan yang di pelajari (Fisher, Bell, dan Baum, 1984).

Kesesakan pada tempat tinggal mucul dari perkembangan jumlah manusia di dunia pada masa kini telah menimbulkan berbagai masalah sosial di banyak negara (misalnya : Indonesia, India, Cina, dan sebagainya), baik permasalahan yang bersifat fisik maupun psikis dalam perspektif psikologis. Contoh permasalahan sosial yang nyata dalam perspektif psikologis dari kesesakan dan kepadatan penduduk adalah semakin banyaknya orang yang mengalami stres dan berperilaku agresif destruktif.

Hambatan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk di negara berkembang umumnya karena adanya pola berpikir masyarakat yang konservatif, yang pada hakekatnya menolak perubahan nilai tradisional dan budaya Indonesia termasuk dalam masyarakat heterogen yang sifatmya tradisional dan religius, misalnya bahwa banyak anak berarti banyak rejeki atau pola berpikir bahwa anak adalah investasi bagi orang tuanya di masa depan.

Pola berpikir dan sikap seperti itu merupakan hambatan, khususnya bagi penduduk yang sebagaian besar tinggal di pedesaan, dimana nilai budaya tradisional tumbuh subur. Contoh lain, untuk mencapai pemerataan penduduk dalam mencapai keseimbangan ekonomi dan ekologi, dilaksanakan transmigrasi dari pulau yang padat penduduk ke Pulau yang konsentrasi penduduknya rendah. Usaha itu tidak dapat menghindari perubahan nilai-nilai tradisional, sebab masih ada yang beranggapan bahwa tanah kelahiran adalah warisan leluhur yang tak boleh ditinggalkan. Timbullah istilah transmigrasi bedol desa yang mengangkut seluruh harta miliknya berikut sedikit tanah kelahirannya.

E. Contoh Kasus Kepadatan dan Kesesakkan Tempat Tinggal dan solusinya.

Di DKI Jakarta, tersedia jaringan jalan raya dan jalan tol yang melayani seluruh kota. Namun perkembangan jumlah kendaraan dengan jumlah jalan sangat tidak seimbang (5 10% dengan 4-5%). Menurut data daripada Perkhidmatam Perhubungan DKI, sebanyak 46 kawasan mempunyai 100 simpang yang mempunyai kesesakan lalulintas, arus yang tidak stabil dan kecepatan yang rendah.

Menurut data dari Dinas Perhubungan DKI, tercatat 46 kawasan dengan 100 simpang yang memiliki kemacetan lalulintas yang diakibatkan oleh kepadatan dan kesesakkan penduduk , arus yang tidak stabil dan kecepatan yang rendah.

Diantaranya Tempat tinggal yang mengalami kemacetan ialah:

  • Kawasan Ancol/Gunung Sahari Kawasan Ancol / Gunung Sahari
  • Kawasan Jatibaru/Tanah Abang Kawasan Jatibaru / Tanah Abang
  • Kawasan Kalimalang Kawasan Kalimalang
  • Kawasan Mampang/Buncit Kawasan Mampang / Buncit
  • Kawasan Pasar Minggu Kawasan Pasar Minggu
  • Kawasan Pondok Indah Kawasan Pondok Indah
  • Kawasan Pulo Gadung Kawasan Pulo Gadung
  • Kawasan Tambora. Kawasan Tambora.

Jakarta sebagai pusat ekonomi juga turut mengalami kesesakan lalu lintas kerana selain dilalui oleh penduduk DKI sendiri , jalan ini juga digunakan oleh pemandu daripada kota sekitar Jakarta seperti Depok, Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Jakarta sebagai pusat ekonomi juga turut mengalami kemacetan karena selain dilalui oleh penduduk DKI sendiri, jalan ini juga digunakan oleh pemandu dari kota sekitar Jakarta seperti Depok, Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Kesesakan dapat dilihat di Sudirman kerana mengambil masa selama berjam-jam untuk pulang ke rumah. Kemacetan dapat dilihat di Sudirman karena memakan waktu berjam-jam untuk pulang ke rumah. Satu insisiatif dilakukan oleh Pemerintah DKI untuk mengatasi masalah pengangkutan di Jakarta yaitu TransJakarta. Pemda dilakukan oleh Pemerintah DKI untuk mengatasi masalah transportasi di Jakarta yaitu Transjakarta.

Minggu, 27 Februari 2011

Orang Bertindak di Lingkungan Beberapa Memperluas Simulasi Dinamika Aksi


Dinamika tindakan adalah simulasi komputer model dan teori perilaku yang dikembangkan oleh John David Atkinson dan Birch (1970). Simulasi menghasilkan grafik menunjukkan kecenderungan akan tindakan-on untuk terlibat dalam berbagai kegiatan, seperti makan, minum, dan berbicara.. Ini menggambarkan perilaku satu individu dalam lingkungan yang konstan. Setiap kegiatan memiliki kekuatan menghasut, gaya hambat, dan gaya consummatory. Meskipun nilai-nilai parameter yang diasumsikan berhubungan dengan karakteristik kepribadian seseorang dan isyarat di dalam lingkungan, nilai-nilai yang dipilih individu untuk mewakili nilai-nilai relatif antara aktivitas yang berbeda.

Pase, simulasi orang yang bertindak dalam lingkungan beberapa, berpendapat seseorang dengan kebutuhan (misalnya, kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan kekuasaan, kebutuhan afiliasi) dan ketakutan (misalnya, takut gagal, takut muncul kuat, kecemasan sosial). Beberapa lingkungan (misalnya, kafe, perpustakaan, ruang asrama) baik mendukung atau menghambat ekspresi kebutuhan dan ketakutan. pasukan menghasut dan gaya hambat, dijelaskan secara lebih rinci di bawah, berasal eksplisit dari karakteristik kepribadian dan dari isyarat lingkungan di Pase.

Stream perilaku.. Dan Birch dinamika Atkinson model tindakan dikonseptualisasikan perilaku secara bertahap. Analogi ini diusulkan oleh James 'aliran William dari kesadaran dan mencakup gagasan bahwa apa yang baru saja terjadi mempengaruhi apa yang akan terjadi selanjutnya.. Sebuah aliran terus-menerus perilaku juga menyiratkan bahwa ada tersembunyi yang menghasilkan perilaku permukaan, tersembunyi kebutuhan dan ketakutan. Analogi aliran juga berfokus pada aliran perilaku dan memungkinkan untuk analisis perilaku melalui waktu. Perubahan Perilaku menandai penghentian satu perilaku dan inisiasi lain. Kali ini-line perilaku menempatkan fokus motivasi pada pertanyaan tentang kapan perilaku tidak dipamerkan dan untuk berapa lama, aspek perilaku yang dapat diamati dan diukur.

Pase juga memproduksi aliran perilaku dengan dimensi tambahan dari lingkungan di mana perilaku yang dipamerkan. Dalam simulasi saat Pase, lima kegiatan yang mungkin, belajar, berbicara, minum, menonton TV, dan makan. Kegiatan ini dapat dinyatakan dalam tiga lingkungan, sebuah kafe, perpustakaan, dan ruang asrama. Orang yang sedang bergerak disimulasikan dari satu lingkungan sampai ke dasar yang lain pada aktivitas dominan.

Di warnet mereka bisa belajar, berbicara, cappuccino minum, atau makan makan. Jika mereka ingin menonton televisi (TV menonton menjadi aktivitas dominan), mereka harus pindah ke ruang asrama. Di perpustakaan mereka dapat belajar atau berbisik dengan teman-teman. Jika mereka ingin minum atau makan, mereka harus pindah ke kafe. Jika mereka ingin menonton TV, mereka harus pergi ke ruang asrama. Akhirnya, di ruang asrama mereka dapat melakukan semua kegiatan kecuali studi. (Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa mereka memiliki teman sekamar yang sangat bersahabat yang telah teman-teman dan TV di sepanjang waktu.). Jika mereka berada di kamar asrama dan ingin belajar, mereka harus pindah ke perpustakaan.

Menghasut pasukan. Dalam dinamika model tindakan, pasukan menghasut ditentukan tingkat di mana kecenderungan untuk terlibat dalam suatu kegiatan, seperti belajar, meningkat dari waktu ke waktu. Kekuatan menghasut dari 100 berarti bahwa kecenderungan tindakan untuk belajar akan meningkatkan 100 untuk setiap unit waktu. Ini akan diwakili dalam grafik kegiatan sebagai garis miring positif. Di Pase, gaya menghasut adalah fungsi dari kebutuhan orang tersebut, isyarat di lingkungan, dan kesesuaian antara kebutuhan dan kegiatan yang tersedia. Kebutuhan dan adalah menekan kepribadian konsep yang dikembangkan oleh Henry Murray dalam buku klasiknya, Eksplorasi di Kepribadian , diterbitkan pada tahun 1938. Misalnya, belajar akan sangat terkait dengan kebutuhan untuk pencapaian (karakteristik dari orang tersebut).Belajar juga akan ditimbulkan oleh perpustakaan, sehingga lingkungan perpustakaan akan memiliki positif (tinggi) tekan lingkungan yang kuat untuk belajar. Dalam Pase kebutuhan seseorang dikalikan dengan menekan lingkungan yang positif untuk menentukan sebuah kekuatan menghasut untuk setiap kegiatan.

Sebuah user interface memungkinkan karakteristik kepribadian (kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan kekuasaan, kebutuhan afiliasi, kebutuhan untuk bermain, dan perlunya perubahan) harus ditetapkan . Sebagai contoh, berbicara di kafe sebanding dengan berbisik di perpustakaan dan untuk ngobrol di ruang asrama. Berbicara memiliki lingkungan yang positif tekan kuat di kafe daripada berbisik telah di perpustakaan. Orang tersebut adalah sama di kedua tempat, namun karena menekan lingkungan yang berbeda, gaya menghasut untuk berbicara lebih tinggi di kafe daripada di perpustakaan.

Hambat pasukan. Dalam dinamika model tindakan, kekuatan hambat adalah kekuatan negatif yang basah dan menunda kecenderungan untuk terlibat dalam suatu kegiatan. Takut gagal adalah kekuatan inhibitor yang berkaitan dengan kegiatan prestasi. Seseorang dengan rasa takut kegagalan yang tinggi akan memakan waktu lebih lama untuk mulai belajar dari orang lain yang tidak memiliki rasa takut kegagalan. . Ketakutan dapat diatur melalui antarmuka pengguna. Lingkungan juga memiliki penekanan negatif yang menonjolkan efek dari ketakutan. . Di ruang asrama, siswa memiliki gambar / orang tua, isyarat yang melebih-lebihkan rasa takut kegagalan. Di kamar asrama, gaya hambat terkait dengan ketakutan akan kegagalan dan belajar adalah tertimbang sangat oleh lingkungan yang negatif tekan tinggi. pasukan Hambat untuk setiap kegiatan adalah fungsi dari seseorang ketakutan dan menekan lingkungan negatif.

Consummatory pasukan. . Dalam dinamika tindakan diasumsikan bahwa suatu kegiatan tidak akan berlanjut tanpa henti karena kepuasan akan terjadi sebagai hasil dari terlibat dalam kegiatan ini. Makan akan membawa tentang penghentian makan. Belajar akan mengakibatkan penurunan kecenderungan untuk belajar dan belajar akan digantikan oleh aktivitas lain. Bahkan menonton TV tidak akan pergi selamanya, kecenderungan akan berkurang dan digantikan oleh kecenderungan untuk terlibat dalam kegiatan lain. Kekuatan consummatory dari suatu kegiatan berhubungan dengan sifat kegiatan. Mempelajari fisika mungkin memiliki nilai consummatory lebih tinggi (dan menyebabkan lebih cepat akhir kegiatan) daripada mempelajari sastra populer (dan membaca novel fiksi ilmiah). Meskipun nilai consummatory untuk berbicara mungkin berbeda dari satu lingkungan yang lain (lebih memuaskan di kafe daripada di perpustakaan, misalnya), dalam versi saat Pase nilai consummatory untuk satu set kegiatan (seperti bicara) adalah yang sama untuk ketiga lingkungan.

Pemindahan. gaya menghasut dari satu kegiatan juga dapat menyebabkan peningkatan aktivitas terkait.Gaya instigating untuk makan juga dapat meningkatkan kecenderungan untuk minum. Gaya menghasut bersama disebut perpindahan dan ditangani dalam simulasi melalui array nilai 0-1,0. Gaya menghasut total untuk kegiatan adalah dorongan untuk itu kegiatan ditambah dengan dorongan sebagian dari seluruh kegiatan yang berhubungan. Namun, dorongan penuh hanya diberikan pada kegiatan yang sedang berlangsung pada; kekuatan menghasut untuk kegiatan non-dominan menurun oleh perhatian selektif (lihat di bawah).

Substitusi. consummatory gaya bersama juga merupakan bagian dari dinamika aksi dan Pase. Substitusi ini sedikit lebih rumit daripada perpindahan, namun. Hanya berlangsung aktivitas di memiliki kekuatan consummatory diterapkan untuk itu. Dengan demikian, hanya kegiatan yang berkaitan dengan perilaku yang sedang berlangsung akan memiliki kekuatan consummatory pengganti diterapkan untuk mengurangi kecenderungan tindakan.

Consummatory tertinggal. Gaya consummatory yang diterapkan pada terus-menerus dan perilaku dominan tidak diterapkan pada perilaku instan diungkapkan. Sebaliknya, masa lag, yang biasanya 2-5 unit waktu, menyebabkan keterlambatan dalam mengurangi kecenderungan tindakan akibat gaya consummatory. inisiasi ini lag tertunda di-set kekuatan consummatory mengikuti inisiasi dari suatu kegiatan. (Kepuasan dari makan ditunda sementara satu mengunyah makanan dan mulai diproses oleh tubuh.) Demikian juga kekuatan consummatory terus selama beberapa waktu setelah akhir kegiatan. (Kepuasan dari makan terus selama beberapa saat setelah makan selesai.) Jadi, diberi lag dari dua unit waktu, aktivitas yang dominan dua unit waktu lalu menerima kekuatan consummatory. . Jika aktivitas baru baru saja menjadi dominan, itu diperbolehkan tumbuh untuk waktu tanpa penurunan penyempurnaan. Hal ini menyebabkan tingkat kecenderungan dari dua kegiatan (satu pergi dan satu datang pada) yang harus didorong terpisah dan menghindari apa yang dikenal dalam dinamika aksi sebagai "obrolan perilaku."

Selektif perhatian. Aspek lain dari simulasi yang menghindari chatter perilaku adalah perhatian selektif. . Berbeda dengan gaya consummatory, perhatian selektif bertindak cepat. Kegiatan yang dominan menerima 100% dari anjuran tersebut, sedangkan kegiatan non-dominan menerima kurang dari 100% (biasanya 80%) dari anjuran mereka. perhatian selektif berkaitan dengan fakta bahwa ketika seseorang terlibat dalam suatu kegiatan, petunjuk-petunjuk yang mendukung prakarsa yang sedang dilayani. Isyarat bagi mereka kegiatan tidak diungkapkan yang tidak dilayani, dengan demikian, mereka harus memiliki kurang dari penuh gaya menghasut diterapkan. perhatian selektif juga berfungsi untuk menjaga kegiatan dari mengobrol dan mematikan, yang menyebabkan perubahan kegiatan bersih.

Mengubah Lingkungan. Sumber akhir obrolan perilaku, atau loop tanpa akhir, dalam simulasi Pase berasal dari perubahan lingkungan. Ketika orang itu di ruang asrama, misalnya, dan belajar menjadi kegiatan yang dominan, yang bergerak orang ke perpustakaan. Di perpustakaan kecenderungan tindakan adalah re-dihitung berdasarkan dan menghambat pasukan menghasut yang berhubungan dengan lingkungan itu. Ada kemungkinan bahwa perhitungan ulang akan menghasilkan orang pindah ke kafe, misalnya. Di kafe tersebut, perhitungan ulang dapat mengakibatkan di lain bergerak - dan seterusnya. Sebuah lingkaran tak berujung akan kemungkinan kuat pada orang dengan ketakutan yang tinggi dan lingkungan dengan menekan negatif yang tinggi. Kecenderungan yang tinggi yang mendorong orang tersebut ke perpustakaan untuk belajar, misalnya, mungkin menjadi negatif karena takut kegagalan yang tinggi dan lingkungan tekan negatif yang kuat di perpustakaan. Untuk menjaga kemungkinan dari sebuah loop tak berujung, simulasi memiliki counter yang menentukan berapa banyak lingkungan telah dikunjungi selama setiap satuan waktu. Jika orang itu memasuki lingkungan keempat, simulasi tidak memeriksa lagi bergerak dan memaksa orang untuk tinggal di lingkungan tersebut, paling tidak satu unit waktu.

Output. Saat ini output untuk simulasi tersebut adalah grafik yang menunjukkan kecenderungan tindakan yang dihasilkan untuk semua kegiatan dan lingkungan orang tersebut ada di pada setiap satuan waktu. Kecenderungan tindakan yang dihasilkan pada setiap satuan waktu adalah kecenderungan tindakan positif (ditentukan oleh gaya menghasut, perpindahan, penyempurnaan, dan substitusi) dikurangi kecenderungan tindakan negatif atau kecenderungan negaction (ditentukan oleh gaya hambat dan kekuatan perlawanan, sebuah kekuatan yang menentang gaya hambat).

Aktifkan hyperlink di bawah untuk melihat user interface. Anda akan dapat mengatur lima motif: kebutuhan berprestasi, kebutuhan kekuasaan, kebutuhan afiliasi, kebutuhan untuk bermain, dan kebutuhan untuk perubahan. Anda juga dapat mengatur lima ketakutan yang sesuai: takut gagal, takut muncul kuat, kecemasan sosial, takut membuang-buang waktu bermain, dan takut perubahan. Bila Anda telah menetapkan nilai-nilai menggunakan pull down pilihan, klik tombol untuk mengubah nilai. Bila Anda puas dengan nilai-nilai yang telah Anda tentukan, jam tombol "Continue" untuk melihat kecenderungan plot. Garis-garis berwarna merupakan kecenderungan tindakan. Di bagian bawah plot adalah garis hitam menunjukkan lingkungan di mana orang tersebut menyatakan kegiatan tersebut.


Dikembangkan oleh Blankenship Virginia

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://oak.ucc.nau.edu/vrb/PASE.htm

Minggu, 31 Oktober 2010

REVIEW JURNAL TENTANG KELOMPOK

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga tugas ini dapat diselesaikan dengan baik. Makalah tentang Psikologi Kelompok. Dibuat sebagai tugas semester untuk menambah dan mengisi nilai tugas kami pada akhir semester. Makalah ini disusun berdasarkan informasi dan data yang kami dapat.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dan dimanfaatkan sebagai sumber informasi.
Kami menyadari atas kekurang sempurnaan makalah ini. Suatu kehormatan apabila para pembaca yang budiman memberi saran dan kritik yang bersifat membangun.
Terima kasih.

Bekasi, Oktober 2010








JURNAL I
KONFLIK ANTAR SUKU DI INDONESIA

1. Yang Diteliti
Konflik antar suku yang terjadi di Indonesia

2. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau yang diperkaya juga oleh keanekaragaman kebudayaan. Keanekaragaman yang ada ditandai dengan tampaknya perbedaan suku bangsa atau etnis, budaya,bahasa, dan keyakinan agama. Keanekaragaman yang dimiliki Indonesia menjadi satu dilemma yang cukup menantang sekaligus membanggakan. Pada satu sisi, kekayaan budaya dari berbagai etnis yang ada menjadi kemajemukan budaya yang bernilai tinggi,namun disisi lainnya pluralitas kultural tersebut memiliki potensi sebagai pemicu disintegrasi atau perpecahan bangsa. Pluralitas kultural sering kali menjadi salah satu pemicu munculnya konflik ditengah-tengah masyarakat Indonesia.
Konflik suku bangsa (etnis),agama, ras dan antar golongan (SARA) sebenarnya tidak murni karena hal tersebut dan pada dasarnya berawal dari hal-hal lain, baik karena ekonomi,ketidakadilan sosial, politik, salah paham, dan faktor lainnya. Munculnya konflik pribumi dan non-pribumi diawali dari perbedaan antara etnis setempat dengan etnis pendatang. Hal ini dialami Indonesia sejak masuknya masa kolonial Portugis, Spanyol dan Belanda. Konsep masyarakat majemuk pertama kali diperkenalkan oleh J.S.Furnivall (1948). Furnivall merumuskan konsep masyarakat majemuk yang berasal dari temuan hasil penelitiannya di Indonesia. Menurutnya masyarakat Indonesia terbagi atas tiga lapisan:
1. Bangsa-bangsa Eropa menempati urutan teratas dalam stratifikasi masyarakat.
2. Bangsa-bangsa Asia (Cina, Arab, dan India) berada diurutan berikutnya.
3. Dan lapisan terbawah adalah kaum pribumi
Konsep masyarakat majemuk yang dirumuskan oleh Furnivall tersebut merujuk pada pengertian sebuah masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa adanya pembauran satu sama lain dalam kesatuan politik. Pada masa penelitian Furnivall, konsep masyarakat majemuk diteliti pada masa kolonial Belanda di Indonesia. pembauran yang terjadi sangat sulit sehingga kaum pendatang dalam hal ini kolonial Belanda lebih mendominasi dan lebih berkuasa. Dalam konsep masyarakat majemuk, J.S. Furnival melihat dari studi kasusnya di Indonesia bahwa masyarakat pribumi adalah masyarakat yang tertindas atau pada sistem stratifikasi sosial, merupakan lapisan masyarakat paling bawah. Masyarakat pribumi atau penduduk setempat asli daerah jajahan bangsa kolonial masyarakat yang menjadi lapisan terbawah pada saat itu dikarenakan masyarakat pribumi menjadi subjek dari penindasan bangsa Belanda. Mulai dari saat itu, saat pendatang memasuki daerah Indonesia, masyarakat Indonesia-lah yang disebut pribumi dan sebaliknya para pendatang disebut non-pribumi. J.S.Furnival membedakan bahwa diluar bangsa Indonesia adalah merupakan non-pribumi, yakni bangsa Eropa dan bangsa Asia yang terdapat di Indonesia seperti etnis Tionghoa, etnis India, etnis Arab, dan etnis lainnya yang masuk ke Indonesia. Di samping itu J.S. Furnival juga menggambarkan stratifikasi sosial ke dalam bentuk piramida sebagai berikut :
a. Lapisan atas, orang kulit putih, Belanda yang bekerja di perkebunan dan pemerintahan
b. Lapisan menengah, yaitu kelompok keturunan Asia atau Timur Asing,khususnya etnis Tionghoa yang menguasai perdagangan
c. Lapisan Menengah ke bawah, kaum priyayi, dan pamong praja
d. Lapisan bawah, yaitu rakyat atau penduduk pribumi.

Tampak jelas stratifikasi sosial yang terjadi dimana yang dimaksud masyarakat pribumi dan masyarakat non-pribumi. Hal ini tidak jauh dengan apa yang dimaksud dengan masyarakat pribumi pada masa modern yang pada dasarnya masyarakat pribumi adalah diluar dari etnis-etnis yang ada di Indonesia atau seperti yang dikategorikan diatas. Pada dasarnya istilah pribumi sendiri tidak diketahui lebih pasti kapan munculnya, yang pasti pada masa kolonial Belanda istilah pribumi dan non-pribumi telah akrab disebut pada masyarakat Indonesia pada masa itu. Ditinjau dari segi pengertian kamus Indonesia bahwa pribumi memiliki arti sebagai penghuni asli dari tempat keberadaan yang bersangkutan. Sedangkan non-pribumi berarti yang bukan pribumi atau penduduk asli suatu negara. Dari makna tersebut, pribumi berarti penduduk yang asli (lahir, tumbuh, dan berkembang) berasal dari tempat negara tersebut berada. Dalam hal ini terkait negara Indonesia, anak dari orang tua yang lahir dan berkembang di Indonesia adalah orang pribumi, meskipun sang kakek dan nenek adalah orang asing.
Ditinjau dari sudut pandang masyarakat Indonesia, pribumi didefinisikan sebagai penduduk Indonesia dari salah satu suku asli Indonesia. Sebaliknya yang disebut non-pribumi adalah kebalikan dari makna pribumi dan cenderung diklasifikasikan berdasarkan warna kulit mereka. Contoh dari objek yang dimaksud yaitu etnis Tionghoa, Arab, India, bangsa Eropa dan lain-lain. Penggolongan pribumi dan non-pribumi muncul sebagai akibat adanya perbedaan mendasar (diskriminasi) terutama pada perlakuan oleh penguasa rezim yang sedang berkuasa. Ini hanya terjadi jika rezim yang berkuasa adalah pemerintahan otoriter, penjajah dan kroninya ataupun nasionalisme yang sempit. Contoh, di zaman penjajahan Belanda, Belanda memperlakukan orang di Indonesia berketurunan Belanda akan mendapat pelayanan kelas wahid, sedangkan golongan pengusaha/pedagang mendapat kelas kedua, sedangkan masyarakat umum (penduduk asli) diperlakukan sebagai kelas rendah (“kasta sudra”). Masalah siapa yang pribumi dan non-pribumi selalu dipertanyakan ketika menyangkut etnis, dan ras. Hal tersebut juga menjadi pembatas untuk hak dan kewajiban yang pada akhirnya bertentangan dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia seperti yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945. Sadar atau tidak sadar bahwa sebenarnya semua penduduk Indonesia sekarang ini secara antropologis merupakan non-pribumi, dalam arti bukan asli dari Indonesia. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh antropolog senior Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Josef Glinka SVD, dalam seminar Man: Past, Present, and Future 2. Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa konflik muncul karena adanya perbedaan unsur SARA yang otomatis membuat cara pandang yang berbeda terhadap segala sesuatu. Tindakan yang timbul dari konflik tersebut pada akhirnya sampai pada tingkat tinggi, yaitu eksterminasi yang diaplikasikan seperti menghukum tanpa peradilan (lynching), pembunuhan massal yang terorganisasi (pogrom), pembunuhan besar-besaran (massacre) dan pemusnahan terhadap kelompok etnis tertentu (genocide).
Di Indonesia sendiri sendiri contoh dari peristiwa bentuk eksterminasi tersebut mungkin masih dapat di ingat kembali peristiwa Sanggau Ledo, Sambas, Sampit yang dikenal dengan konflik antar etnis Dayak/Melayu dengan Madura, kemudian adanya peristiwa Ambon dan Poso yang berlatar-belakangkan masalah agama dan peristiwa Mei 1998, yakni konflik paling ekstrim di mana konflik politik yang berimbas pada sentimen etnis Tionghoa dan peristiwa tersebut hampir saja menjadi peristiwa genocide ketiga di dunia. Hal ini merupakan perwujudan masyarakat multikultur secara sosiologis dan demografis. Setiap lapisan masyarakat membuat identitas mereka dan pada kondisi tertentu mereka akan menentukan ke dalam ingroup dan outgroup atau dalam arti luasnya menggolongkan bagi mereka siapa pribumi yang berhak atas tempat keberadaan mereka dan siapa non-pribumi sebagai pendatang. Hal ekstrim dalam suatu negara pun dapat terjadi berupa perpecahan atau disintegrasi.

3. Metode yang Digunakan
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah Deskriptif, yaitu analisis masalah dengan pengumpulan data melalui Studi Pustaka (library research) dengan teknik pengumpulan bahan kepustakaan buku-buku, artikel, media massa cetak maupun media massa elektronik serta data-data tertulis yang berkaitan dengan masalah penelitian.

4. Pengujian
Hasil data diuji dengan menggunakan teori dari J.S. Furnival, Roger H. Soltau, Soepomo, Hegelian, Spinoza dan Adam Muller.

5. Hasil
Sebagai bangsa yang multietnis dengan berbagai kebudayaan yang dimiliki, kecenderungan adanya konflik antaretnis dapat menghancurkan cita-cita integritas nasional yang dicita-citakan oleh Indonesia sejak dari awal. Maurice Duverger menyatakan bahwa konflik dan integrasi bukan seharusnya dua kontradiktif di dalam politik, tetapi saling melengkapi satu sama lain. Fungsi negara dan pemerintah dalam menjaga integritas nasional merupakan satu hal yang harus dijalankan oleh pemerintah. Hal ini dapat ditandai dengan jaminan bagi setiap warga negara baik mayoritas maupun minoritas. Disamping itu berdasarkan Undang-Undang RI setiap warga negara telah memberi jaminan namun tidak harus lepas tangan. Misalnya kepada etnis Tionghoa yang merupakan salah satu etnis yang dimiliki Indonesia cenderung masih ragu dalam melaksanakan hak politik mereka. Rendahnya tingkat partisipasi aktif politik mereka disetiap wilayah menjadi bukti. Disamping itu setiap pengurusan bidang administrasi masih ada pemisahan yang dilakukan oleh birokrasi, dalam hal partisiapasi politik masih adanya streotip pribumi dan non-pribumi yang selalu mengenai etnis Tionghoa. Dalam hal ini pemerintah perlu mengkaji kembali cita-cita integrasi nasional yang terdahulu. Masalah seperti ini dapat menjadi pemicu terciptanya disintegrasi nasional.














JURNAL II
PEMBELAJARAN SENI TARI BAGI SISWA TUNA RUNGU

1. Yang Diteliti
Cara guru mengajarkan seni tari kepada siswa tuna rungu.

2. Latar Belakang
Setiap warga negara Indonesia mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan itu tidak dibeda-bedakan menurut jenis kelamin, status sosial, letak geografis, agama, dan keadaan fisik dan mental seseorang. Anak berkelainan meskipun dalam jumlah yang sedikit, mempunyai hak yang sama pula untuk memperoleh pendidikan guna meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang sekurang-kurangnya setara dengan lulusan sekolah dasar. Pendidikan anak berkelainan dikelola oleh sekolah-sekolah luar biasa yang disesuaikan dengan jenis kelamin. Pendidikan luar biasa bertujuan untuk membantu peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan mental, agar mampu mengembangkan kemampuannya dalam dunia kerja. Tuna rungu merupakan salah satu dari sekian anak berkelainan yaitu mereka yang kehilangan daya pendengarannya. Akibat kehilangan daya pendengarannya ini, maka anak tuna rungu mengalami kesulitan dan hambatan dalam bersosialisasi di masyarakat. Pendengaran merupakan indera yang dipergunakan oleh anak yang berkembang secara normal untuk mengasimilasi pola-pola komunikasi dari masyarakat sebagai komunitas bahasanya.
Kekurangan dalam indera pendengaran dan ketiadaan pendidikan kompensatoris (pengganti) akan menyebabkan seorang anak yang tumbuh tuli secara bisu, tidak mampu berperan secara independent dalam masyarakat dewasa. Dengan memberikan pendidikan seseorang tuna rungu dapat menguasai keterampilan komunikasi sehingga ia dapat pula berfungsi dengan sukses sebagai individu yang independent atau mandiri. SLB (sekolah luar biasa) Bagaskara Sragen merupakan salah satu sekolah luar biasa bagian B, yang ada di Sragen yang menyelenggarakan pendidikan khusus bagi anak-anak tuna rungu atau tuli. SLB Bagaskara Sragen diperuntukkan untuk anak-anak baik putra maupun putri yang memiliki kelainan atau kecacatan (tuna rungu) dari tingkat sekolah dasar sampai sekolah menengah umum. Program pengajaran di SLB Bagaskara Sragen mengacu pada kurikulum, isi mana materi pembelajarannya tidak jauh berbeda dan diupayakan sama dengan materi pembelajaran di sekolah dasar biasa. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu dimodifikasikan seperti yang menyangkut teknik penyampaian materi pelajaran, serta metode mengajar yang digunakan oleh tenaga pengajar.
Proses belajar mengajar pada anak tuna rungu berbeda dengan kelas anak-anak normal, karena anak cacat (tuna rungu) perlu cara khusus dalam mengajar dan mendidik, biasanya dalam bentuk kelas kecil. Seorang guru hanya berhadapan dengan 4-10 orang anak supaya guru lebih berkonsentrasi dan terarah, sebab anak-anak cacat tuna rungu memerlukan perhatian khusus. Seni tari merupakan salah satu pelajaran yang diberikan dari berbagai pelajaran yang ada di SLB Bagaskara Sragen. Dengan adanya pelajaran seni tari yang diberikan, diharapkan siswa SLB Bagaskara senang dalam pelajaran kesenian dan dapat mendukung pelajaran umum diberikan harus sesuai dengan tingkat kemampuan dan keadaan fisik peserta didik. Dalam pemberian materi ataupun praktik seni tari dipilih tarian yang sederhana atau ragam geraknya tidak terlalu sulit dan banyak pengulangan supaya anak dapat dengan mudah mengingat dan menghafal. Mengingat keterbatasan mental dan fisik tersebut, maka materi yang diberikan pada anak-anak tuna rungu di SLB Bagaskara Sragen cenderung pada tari kreasi sebagai contoh tari Merak, Kelinci, Piring dan tidak menutup kemungkinan sesekali diberikan tari klasik misal Bondan Tani.
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar seni tari di SLB Bagaskara Sragen bisa berjalan dengan baik, hal ini karena didukung dengan sikap siswa yang sangat antusias dalam belajar, ketertiban dalam mengikuti pelajaran, selain itu juga faktor utama dari guru yang bisa menerapkan metode yang tepat bagi siswa tuna rungu. Wujud kongkret keberhasilan ini adalah mengadakan pentas setiap acara perpisahan dan bila ada kunjungan dari pemerintah yang sifatnya resmi. Keberhasilan dalam pembelajaran tari didukung dengan adanya bakat serta kemauan siswa dalam bidang tari. Kemampuan anak dalam melakukan gerak tari tidak kalah dengan anak-anak normal pada umumnya misalnya: keluwesan, kelincahan, hafalan hanya mereka terhambat dalam pendengaran yaitu iringan tari. Namun demikian Materi seni tari yang proses pembelajaran tari di SLB Bagaskara Sragen adalah berhasil, karena meskipun anak cacat dapat menguasai sebagaimana anak yang normal.

3. Metode Yang Digunakan
 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif artinya prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif, ucapan atau lisan dan perilaku yang dapat diamati dan orang-orang atau subyek itu sendiri (Furchan 1992:21).
 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Teknik Observasi
Observasi merupakan pengamatan langsung terhadap objek yang akan diteliti. Observasi diartikan teknik pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan disengaja melalui pengamatan dan pencatatan terhadap gejala yang diselidik (Hendrarto 1987:76). Teknik observasi merupakan suatu cara untuk mengumpulkan data yang lebih, diperoleh melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada objek penelitian, langsung ditempat dimana suatu peristiwa, keadaan dan situasi yang sedang terjadi. Adapun aspek-aspek yang diobservasi dalam penelitian ini adalah: Kondisi fisik SLB BAGASKARA Sragen dan Proses pembelajaran tari bagi anak-anak SLB Bagaskara Sragen. Observasi yang dilakukan untuk mengetahui dan mengamati kegiatan belajar seni tari di lingkungan sekolah dengan menggunakan alat bantu berupa kamera foto dan daftar cek.

Teknik Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang memberikan keterangan pada si peneliti (Mardalis 1999:64). Menurut Moleong (1990:135) wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan diwawancarai dan yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Pertanyaan dan narasumber Teknik wawancara yang digunakan adalah dengan pembicaraan informal artinya pertanyaan yang diajukan tergantung pada wawancara dengan mempertimbangkan pokok-pokok yang akan dipertanyakan. Wawancara untuk memperoleh informasi dilaksanakan dengan melihat situasi dan kondisi guru-guru serta karyawan SLB Bagaskara Sragen, sehingga hubungan antara pewawancara dengan yang diwawancarai berlangsung biasa dan wajar. Pertanyaan dan jawabannya berjalan seperti pembicaraan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Wawancara dilakukan pada kepala sekolah, guru-guru, guru seni tari, staf tata usaha, orang tua/wali murid, dan siswa SLB Bagaskara Sragen. Wawancara yang dilakukan untuk mengungkap permasalahan yang dibahas yang mendalam antara lain :

a. Wawancara pada Kepala Sekolah
Sejarah berdirinya SLB Bagskara Sragen. Jumlah siswa, guru atau karyawan SLB Bagaskara Sragen. fasilitas yang dimiliki sekolah.
b. Wawancara pada guru tari
Kurikulum yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Prestasi yang pernah diraih. Sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah khususnya dalam bidang tari. Kesulitan atau hambatan dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan seni tari bagi siswa tuna rungu. Metode yang banyak digunakan dalam pengajaran seni tari.
c. Wawancara pada guru-guru
Hubungan guru dengan siswa. Hubungan siswa dengan siswa. Kesulitan guru dalam menghadapi siswa tuna rungu. Tata tertip sekolah.
d. Wawancara pada wali murid
Peran serta orang tua terhadap prestasi di bidang seni tari. Daerah asal siswa SLB Bagaskara Sragen.
e. Wawancara pada murid
Hubungan siswa dengan siswa. Senangkah dengan pelajaran tari.
Teknik Dokumentasi
Goba dan Lincholn dalam Moleong (1990: 161) menyatakan bahwa teknik dokumentasi merupakan cara pengumpulan data yang berupa pertanyaan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa seperti sumber tertulis, film,data. Teknik dokumentasi ini dilaksanakan untuk memperoleh data sekunder guna melengkapi data yang belum ada, yang belum diperoleh melalui wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini teknik dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar pendidikan seni tari berupa satuan pelajaran, daftar siswa, kurikulum, daftar nilai, foto kegiatan di SLB Bagaskara Sragen.

4. HASIL
Kecacatan bukanlah suatu halangan untuk meraih prestasi tetapi justru mendorong dan memacu untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Prestasi yang pernah diraih SLB Bagaskara Sragen selama tiga tahun terakhir di bidang olah raga, patut dibanggakan karena mereka tidak kalah dengan anak-anak normal. Setiap lomba mereka tidak mau kalah, olah raga tenis meja yang paling menonjol dan disegani lawan.
Dalam bidang seni Kabupaten Sragen jarang sekali mengadakan lomba, sehingga SLB Bagaskara Sragen tidak memiliki tropi atau piala yang berhubungan dengan seni, walaupun tidak mempunyai tropi atau piala SLB Bagaskara juga pernah diundang untuk mengisi acara pentas tari dalam rangka hari ulang tahun Pramuka di Pendopo Rumah Dinas Bupati dan di gedung Korpri dalam rangka seminar tentang anak-anak Keberhasilan ini tidak semata-mata dari anak-anak tetapi juga berkat dedikasi guru yang membimbing dengan sabar, dukungan orang tua dan sarana dan prasarana yang sangat mendukung.







JURNAL III
A DEPICTION OF RACIAL INFLICTED PAIN

1. Yang Diteliti
Konflik antar etnis yang terjadi di Malaysia dan akibat yang ditimbulkan.

2. Latar Belakang
Malaysia adalah negara baru dengan masyarakat majemuk yang terdiri dari Melayu, Cina, India dan lainnya etnis minoritas. Negara ini mencapai kemerdekaan dari Inggris tahun 1957 setelah kolonialisme seperti banyak negara lain. Sejarah bangsa ini
dibentuk oleh pengalaman dalam satu atau lain cara. Dari tahun 1957 sampai 1969, negara baru dengan kelompok etnis yang beraneka ragam berjuang untuk menempa dirinya menjadi suatu bangsa. Pada tanggal 13, Mei 1969 terjadi Bentrokan berdarah antar ras. Konflik ras ini mengguncang negara dan bekas kiri sosial strain dan budaya konflik dalam hubungan ras yang masih ada sekarang meskipun telah merdeka selama hampir 53 tahun.
Pada tahun 1998, ada bentrokan rasial di Kampung Rawa di Penang. Pada tanggal 24 Maret 1998, dilaporkan dalam New Straits Times bahwa Pemerintah Negara telah memutuskan untuk barisan dari sebuah kuil Hindu di Jalan Kampung Rawa berikut ketegangan di antara penduduk. Pada tanggal 27 Maret 1998, New Straits Times melaporkan Penang Kapolri mengatakan Officer masalah yang bersangkutan kedekatan sebuah kuil Hindu ke masjid di Kampung Rawa Petani jalan.
Pada tahun 2001, negara itu diguncang oleh kerusuhan rasial di Kampung Medan jalan Klang Lama, Kuala Lumpur. Ketika kerusuhan rasial atau konflik pecah, cepat pemerintah memperkenalkan upaya untuk mendorong kesatuan yang lebih baik antara ras. Misalnya, sekarang Malaysia dapat menikmati `Open House 'selama perayaan utama
perayaan seperti Hari Raya Idul Fitri (Idul Fitri), Tahun Baru Imlek, Deepavali dan Natal.
Ini dilakukan dalam skala besar oleh negara-negara yang dipilih berbeda di Malaysia. Perdana Menteri dan menteri kabinetnya berkumpul bersama dengan orang selama
perayaan. Idenya adalah untuk memungkinkan semua ras dari semua lapisan masyarakat untuk merayakan setiap festival. Mahathir Mohamad dalam sambutannya `Membangun Bangsa Malaysia 'di upacara untuk Peluncuran Program pada Sosialisasi, di Pusat Perdagangan Dunia Putra, Kuala Lumpur, pada 1 Agustus 1988, mengatakan: "Kita tidak dapat menyangkal bahwa Malaysia adalah negara multi-ras. Pihak berwenang tidak memiliki niat memusnahkan identitas dari setiap perlombaan. Semua ras bebas untuk mengabadikan
mereka sendiri identitas di, agama bahasa dan budaya ". Baru-baru ini, pemerintah Malaysia memperkenalkan sebuah slogan baru untuk kesatuan etnis disebut 1 Malaysia. Ini adalah satu lagi ide baru untuk Malaysia kontemporer.
Cerita-cerita dianalisis menggunakan Pluralis Konflik Teori Turki. Nyeri digambarkan dalam cerita pendek sebagai contoh terjadinya konflik. Contoh ini adalah:
• Konflik 1 - perjuangan sedang berlangsung dalam masyarakat yang heterogen (kejahatan dan penyimpangan)
• Konflik 2 - Inter-kelompok perjuangan untuk dominasi dalam politik
• Konflik 3 - reaksi negatif dari satu kelompok sebagai hasil dari diprovokasi oleh orang lain kelompok perilaku, makna kultural, dan signifikansi.

3. HASIL
Isu-isu dalam cerita-cerita merupakan konsekuensi dari masalah antar-ras. ras dikenakan untuk mencintai antar-ras, hubungan, perkenalan tetapi hal jantung tidak mudah terwujud. Ketidakpuasan kefanatikan, rasial dan kecurigaan blur upaya untuk menyatukan ras yang berbeda dalam ikatan perkawinan dan orang-orang yang tidak bersalah menderita sangat. Melayu muda berpendidikan merasa konflik saat mereka menonton mereka tidak berpendidikan orang dirampas kehidupan yang lebih baik dan mereka bertekad untuk melihat orang-orang mereka menarik melalui kemiskinan. Mereka menunjukkan rasa iri dan dengki dari ras lain yang banyak manfaat hidup di negeri ini sementara mereka terus menderita dalam kesulitan. Mereka bercita-cita kehidupan setelah lebih baik dan lebih tinggi pendidikan untuk orang Melayu mereka.
Konflik yang dialami oleh etnis kelompok selama tahun-tahun awal kemerdekaan meniup proporsi ketika mereka aspirasi ekonomi dan sosial terus-menerus tidak terpenuhi. Ada banyak kecurigaan dan kebencian rasial yang benar-benar mengarah pada kerusuhan rasial tahun 1969.Pembangunan bangsa dan nasional identitas terus tak terjangkau dan kabur oleh kekacauan di negara baru. The intensitas konflik dirasakan oleh ras mengancam upaya pembangunan bangsa dan pembentukan identitas. Konflik adalah siklus dan mereka terus eksis di kontemporer Malaysia. Jika tanpa pengawasan, bangsa dan pembentukan identitas terbantahkan akan beresiko. konflik dialami oleh orang-orang dalam panci mencair bukti menawarkan suara ras terkait masalah yang menghalangi pembentukan bangsa dan identitas nasional. Ini sakit ditimbulkan rasial harus diperlakukan sesegera mungkin.



JURNAL IV
POPULATION DYNAMICS IN LATIN AMERICA


1. Yang Diteliti

Dinamika populasi yang terjadi di negara-negara Amerika Latin.



2. Latar Belakang

Amerika Latin mengalami ledakan pertumbuhan penduduk di tengah abad ke-20
sebagai dua tren demografi converged: tingkat kelahiran tinggi dan cepat
penurunan tingkat kematian. Dengan pertumbuhan tahunan mencapai 2,8 persen pada 1960-an, populasi Amerika Latin tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan apapun di kawasan dunia lainnya kecuali Afrika. Ini belum pernah terjadi sebelumnya, kecepatan pertumbuhan melambat setelah tahun 1970.

Sementara beberapa negara di Latin Amerika menyambut tambahan populasi penduduk sebagai cara untuk membantu mereka yang berada di daerah pedalaman yang jarang penduduknya, sebagian besar dari pertumbuhan terkonsentrasi di
wilayah perkotaan. Penduduk daerah sedang berubah dari yang sangat pedesaan untuk predominantly perkotaan.
Pada tahun 2000, tiga perempat Latin Amerika tinggal di daerah perkotaan, dengan
pertumbuhan yang paling kuat di antara kota menengah daripada kota tua seperti Buenos Aires, Sao Paulo, dan Kota Meksiko. Penduduk Amerika Latin tiga kali lipat antara tahun 1950 dan 2000, meskipun cepat penurunan tingkat kelahiran. Abad ke-21 akan melihat tingkat kelahiran yang lebih rendah dan pertumbuhan lambat.
Di Amerika Utara Banyak yang tidak menyadari demografis etnis besar dan sosial keanekaragaman Amerika Latin atau dari politik yang berbeda dan struktur ekonomi ditemukan di wilayah. Sementara sebagian besar Amerika Latin berbicara Spanyol, misalnya, Bolivia,Ekuador, Guatemala, Meksiko, dan Buletin ini mengkaji Penduduk
utama demografis tren dalam bahasa Latin Amerika selama paruh kedua abad ke-20 dan menyoroti demografis variasi antara Latin American negara. Buletin juga mempertimbangkan hubungan antara demografi dan sosial ekonomi proses di wilayah tersebut. Buletin berfokus pada 18 negara berbahasa-Spanyol mencoba dari Belahan Barat, ditambah Brazil dan Haiti.

Keragaman Etnis dan Ras di Amerika Latin
Amerika Latin adalah campuran dari berbagai bangsa seperti Eropa, Afrika, dan pribumi atau budaya Amerindian, yang mencerminkan tiga kelompok populasi utama yang telah tinggal di sana selama 500 tahun terakhir. Meskipun budaya yang dominan dan struktur politik terutama Eropa, hanya tiga negara-Argentina, Uruguay, dan Kosta Rika-memiliki pre-dominan populasi Eropa. Di negara-negara Amerika Latin lainnya,populasi adalah campuran dari tiga kelompok asli sering digambarkan seperti istilah sebagai mestizo (campuran Amer-
indian dan keturunan Eropa) dan blasteran (campuran Afrika dan Eropa keturunan).Pengaruh Amerindian tersebar di Amerika Selatan. Jutaan Amerindian berbahasa Quechua hidup di negara-negara Andean Selatan Amerika, terutama di Bolivia, Peru, dan Ekuador. Pada tahun 1975, Peru mengadopsi Quechua sebagai bahasa resmi kedua-
(setelah Spanyol), kesaksian pentingnya lanjutan dari adat budaya. Banyak adat
Bolivia, terutama di sekitar Danau Titi- caca, berbicara Aymara. Timur Andes, Paraguay, atau "tempat air besar" dalam bahasa Guarani. Guarani-Paraguay bahasa kedua digunakan secara luas di antara semua kelas sosial. Populasi
reaksi yang diharapkan dari Kolombia dan Venezuela juga cenderung mestizo, namun dengan besar minoritas keturunan Eropa di kota-kota besar dan sejumlah besar kulit hitam dan mulato di sepanjang pantai. Brasil Amerika Latin terbesar dan negara yang paling banyak penduduknya, melainkan juga salah satu yang paling beragam. Pada zaman kolonial, Portugis membawa sejumlah budak Afrika untuk bekerja pada perkebunan tebu di Brasil timur laut.Brazil-ian negara dari Bahía menjadi jantung budaya Afro-Brasil, di mana Euro-Pean dan Afrika agama dan budaya dicampur. budaya Afrika ini tercermin dalam Bahía's seni, musik, agama, dan makanan. Praktek Candomblé, seorang Afro-Brasil agama, adalah sebagai terlihat sebagai praktek Kristen di wilayah tersebut. Amerika Tengah dan Meksiko juga budaya dan ras yang beragam. Populasi meksiko adalah sebagian besar mestizo, namun
masyarakat adat masih berada didataran tinggi pusat, Yucatán penin-sula, dan di selatan dataran tinggi Chiapas dan Oaxaca. Jutaan orang berbicara salah satu indige 20 atau lebih-
bahasa nous masih dituturkan di seluruh Meksiko. Nahuatl, Maya, Mixtec, Zapotec, dan Tarascan antara paling banyak digunakan di negara berbahasa Amerindian.Nahuatl, yang berbahasa kekaisaran Aztek yang dihancurkan oleh penjajah Spanyol di abad ke-16, masih terdengar sampai hari ini di Meksiko di negara bagian Puebla, Veracruz,Hidalgo, dan Guerrero. Kata Inggris seperti tomat, coklat, alpukat, dan coyote berasal dari Nahuatl. Sejumlah besar berbahasa Maya Meksiko tinggal di semenanjung Yucatán dan dataran tinggi Chiapas di selatan Meksiko dan Guatemala. Guatemala suatu populasi yang didominasi Amerindian, terutama di daerah pedesaan. Di Guatemala Amerindian yang mengadopsi kehidupan gaya perkotaan dan berbicara Spanyol dikenal sebagai ladinos-istilah yang sama digunakan untuk perkotaan Guatemala keturunan Eropa.
Sedangkan definisi ras tidak jelas di Amerika Latin,sebenarnya ada perbedaan ekonomi antara beberapa kelompok. Di Guatemala, 87 persen dari penduduk asli tinggal
di bawah garis kemiskinan pada akhir 1990-an,dibandingkan dengan 66 persen dari total populasi Guatemala. Di Meksiko, 82 persen penduduk pribumi miskin,dibandingkan dengan 23 persen dari populasi seluruhnya. Sebuah studi di Brasil menemukan bahwa
setidaknya seperempat dari kulit hitam, mulato,dan masyarakat adat berada di garis kemiskinan. Sementara hanya 13 persen kulit putih dan 8 persen dari Asia berada di kelompok terendah. Sebaliknya, 59 persen dari Asia dan 28 persen kulit putih di Brazil berada di urutan teratas dalam hal pendapatan.

3. Yang Diujikan
Hasil data diuji berdasarkan riset berupa skala dan tabel pertumbuhan penduduk negara-negara Amerika Latin dari tahun ke tahun.





DAFTAR PUSTAKA
1. http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:D55Oen9qjFAJ:repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18476/5/Chapter%2520I.pdf+skripsi+tentang+konflik+antar+suku.pdf&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEEShZSlKNSp_pMZbz_pz3kFp2RlcAusdXgXFsa_jMwJdVhbu09GhTjwyhogPCBqRNNp3OkczRwLnc6V8M0bd-_okxV-4mYK32gfVCqi5WlNm55X2ylHBitxOHz-DAerFYFFkaevcN&sig=AHIEtbSzHqXTIEyS7kju4zU2W6upXd6Sxg

2. http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:qFyLlcABzxkJ:digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH0840/4e908b94.dir/doc.pdf+skripsi+tentang+kelompok+anak+tuna+rungu.pdf&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESiX3MUcYXF7hf-g_ntlPgbO5wNufVQjySsxYYguYNwC_-kOlWwdDTvAM-n9IJfqYepv8SElFOAYjq9vxgoR-rYfPOzlLpGd-xxqqdVGsnlDQgzSPYjYnWPDS612_h7JK9d4TwkB&sig=AHIEtbSZbvHrSS8xruD1BpdHbYIhqj7QEQ

3. http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:ie76uvuDgNoJ:www.prb.org/source/58.1populdynamicslatinamer.pdf+conflict+between+afro+america+and+original+america.pdf&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESiYpZeUGTBSgRJWYE5fv8tUfrD1bjRiSd997QRD-MXoCAVMh3eqo0cAqk8mPqxFxfPrfu10ge-S1_YpyslMYIF8bTWhs6sfmY-6aNNjMDdTiFHVovHLbOw8f35EVDBLC36K2HD4&sig=AHIEtbQhB7aMl3WqFjhSpoz8t2YUO87uZg

4. http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:lvKXSnEqPOIJ:www.inter-disciplinary.net/wp-content/uploads/2010/01/isapaper.pdf+inter-racial+conflict.pdf&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEEShZXlC6ysI1-2uJzqPH_Y1uiUssjD1syd1P1j54_m3grkxi_MMDnxV81MMEhuBH1T4ry01ZENWPYFR_ws6O5XGmDGt7-LthMNyPuWogXXgKcg2Ln_l3hTeKTFIesLWxvrlEOEOF&sig=AHIEtbQfVazY_Wj6ubb3qKR-ii794mTaeQ








NAMA KELOMPOK

1. Bunga Permata Sary
2. Dhaniar Yenni Astuti
3. Elrida Nurnaningsih
4. Giovvani Aditya Kristiaji
5. Nia Tri Yuniarti

MATA KULIAH

“ Psikologi Kelompok “

Kamis, 07 Oktober 2010

Organisasi Pengajian Kaum Perempuan

Nama Organisasi : Majelis Taklim Nurussa'adah

Pendiri : Hj. Nurussa'adah S.Ag

Jumlah Pengikut : 54 orang

Berdiri Sejak : Bulan Agustus , Tahun 1994


Sejarah terbentuknya pengajian ini dimulai ketika melihat kaum ibu di wilayah perumahan yang sepertinya masih banyak kurang memahami masalah agama, maka tergerak hati untuk mengajak mereka bergabung dalam suatu perkumpulan pengajian yang akhirnya diberi nama "Majelis Taklim Nurussa'adah". Tujuan pengajian ini ialah untuk mengajak kaum ibu memperdalam ilmu agama, dimulai dari mempelajari Alqur'an beserta terjemahannya dan juga membantu kaum ibu jika ada yang belum bisa membaca Alqur'an.

Awalnya pengajian ini hanya beranggotakan 10 orang, tetapi semakin lama semakain bertambah hingga akhirnya beranggotakan 54 orang. Pada pengajian ini, juga diajarkan bagaimana cara kita untuk membantu orang lain dengan ikhlas dan bagaimana cara kita untuk bersedekah.

Alhamdulillah, karena didakannya uang kas pengajian, Majelis Taklim Nurussa'adah ini sudah banyak melakukan kegiatan besosialisasi, seperti mengadakan Kawin masal, Sunat masal, Kunjungan - kunjungan ke Panti jompo dan Panti asuhan.

Untuk mengadakan pengajian ini, biasanya dilakukan seminggu sekali setiap Hari senin, di rumah anggota majelis, tujuannya agar menjalin silahturahmi kepada keluarga majelis.Alhamdulillah sampai saat ini pengajian yang didirikan oleh Hj. Nurussa'adah tercipta hubungan yang sangat baik dan islami.

Minggu, 06 Juni 2010

perbedaan gagap





terdiri atas 2..

(1). Primary Stuttering
penderita gagap, secara tidak sengaja mengulang kata-katanya, bunyi kata-katanya atau kalimatnya.dan penderita gagap tidak berusaha atau tidak memiliki keinginan untuk memperbaikinya serta tidak menunjukkan komunikasi kepada orang lain.

(2). secondary stuttering
Penderita gagap, secara sadar mengerti akan keadaannya, dan penuh prasangka terhadap orang lain, reaksi ini yang mengakibatkan penderita mudah marah dan menyulitkan cara bicaranya, biasanya penderita melakukan hal seperti menggerakan muka atau anggota tubuhnya.

Gagap


Gagap adalah gangguan dalam berbicara atau lambat di dalam berbicara, umumnya muncul antara usia 3-4 tahun dan dapat berkembang menjadi kasus yang kronik apabila tidak ditangani secara akurat.
Gagap dapat secara spontan menghilang pada usia remaja, namun terapi bicara dan bahasa sebaiknya dilakukan sebelumnya.
pada umumnya orang gagap itu normal, hanya saja produksi suara dan penerjemahan kata-kata yang dikeluarkan tidak sempurna.

Jumat, 21 Mei 2010

wawancara lansia




Hasil wawancara pada Lansia


NAMA : Mahroem Siti
TEMPAT LAHIR : 25 november 1925

KETERANGAN
Menikah : Pada tahun 1942
Suami : Amir Lahar
Anak : 7
Cucu : 17
Cicit : 17


Setelah berhasil untuk diwawancarai didapatkan info mengenai Lansia tersebut...



Nenek Mahroem siti, atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan “OMA”, Menikah diumur 17th pada jaman Jepang, beliau menikah dikarenakan takut dijadikan tentara Jepang sebagai wanita penghibur, Saat ini usia beliau sudah 84th. Diusianya yang telah senja ini Oma tidak merasa kesepian seperti Lansia pada umumnya, sebab oma tinggal bersama suami dan anak yang ke lima, Evi. Yang memiliki tiga orang anak, dan salah satu diantaranya mengalami keterbelakangan mental. Oma memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan cucunya yang memiliki keterbelakangan mental tersebut.

Beberapa waktu lalu, oma mengalami kecelakaan (jatuh dalam kamar mandi) yang mengakibatkan pendarahan didaerah kepala dan mengharuskan untuk mendapat perawatan medis khusus berupa jahitan di kepala, dan seminggu yang lalu oma baru saja check up ke rumah sakit untuk melepas jahitan di kepalanya, kondisi fisik oma saat ini dalam keadaan sehat karena beliau cukup menjaga pola makannya, tidak seperti lansia pada umumnya yang sering sakit-sakitan.

Pada tahun 1983 beliau mendapat kesempatan untuk menunaikan ibadah haji, oma hanya pergi sendiri tanpa suaminya, awalnya oma merasa takut tetapi akhirnya beliau dilindungi oleh sosok pemuda yang tak dikenal. Untuk kesehariannya Oma mengisinya dengan istirahat, beribadah, masak, dan menonton telivisi, oma sangat senang jalan-jalan ke mall untuk membeli belanjaan atau Cuma sekedar melihat-lihat, beliau hobby menulis diary setiap hari sejak tahun 1983 hingga saat ini.
Oma terlihat sebagai orang yang mempunyai deffence mechanism yang cukup kuat, di setiap ceritanya oma selalu mengalihkan subjeknya sebagai orang lain. Sebisa mungkin oma selalu menutupi ceritanya, maka dari itu oma senang menulis buku diary karena beliau memiliki sifat yang introvert. Namun diakhir ceritanya beliau selalu memberikan nasihat-nasihat tentang kehidupan.

Oma bertemu dengan suaminya pada umur 15th, dan itu merupakan cinta pertama, pacar pertama, suami pertama dan terakhir. Mereka telah menikah selama 68th ,dalam berumah tangga oma jarang sekali bertengkar,sesekali mereka bertengkar karena masalah anak, dan perbedaan prinsip dalam mendidik anak, saat oma sudah menjalin hubungan sama opa, oma sempat di cintai oleh orang jepang akan tetapi oma tetap memilih opa sebagai pasangan hidupnya.